Rabu, 10 Maret 2010

ANALISIS PUISI BERDASARKAN PENDEKATAN STRUKTURAL (Oleh: YAYAK AQINA LORATELER PADEMAWU) MAKALAH: ANALISIS PUISI BERDASARKAN PE



ANALISIS PUISI
BERDASARKAN PENDEKATAN STRUKTURAL
(Oleh: YAYAK AQINA LORATELER PADEMAWU)





BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah
Struktural merupakan keseluruhan yang bulat, yaitu bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktural itu. Pendekatan struktural yaitu suatu metode atau cara pencarian terhadap suatu fakta yang sasarannya tidak hanya ditujukan kepada salah satu unsur sebagai individu yang berdiri sendiri di luar kesatuannya, melainkan ditujukan pula kepada hubungan antar unsurnya.
Analisis struktural merupakan tugas prioritas atau tugas pendahuluan. Sebab karya sastra mempunyai kebulatan makna intiristik yang dapat digali dari karya itu sendiri.
Pendekatan struktural yang dipergunakan, akan menghasilkan gambaran yang jelas terhadap diksi, citraan, bahasa khias, majas, sarana retorika, bait dan baris, nilai bunyi, persajakan, narasi, emosi, dan ide yang digunakan dalam menulis puisinya.
Untuk menunjang menganalisis puisi. Pendekatan struktural dalam analisis puisi dab kritik sastra berguna untuk pengembangan dan pembinaan ilmu sastra (teori sastra). Kritik sastra merupakan wadah analisis karya sastra, analisis struktur ceruta, gaya bahasa, gaya bahasa teknik penceritaan dan sebagainya.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, makalah yang berjudul “ Aalisis Puisi Berdasarkan Pendekatan Struktural, secara lebih terinci rumusan masalah tersebut di fokuskan pada pokok masalah dan dijabarkan dalam bentuk pertanyaan sebagai berikut:
1. Apa pengertian pendekatan struktural?
2. Apa arti dari analisis puisi?
3. Apa hasil dari menganalisis puisi berdasarkan pendekatan struktural?
1. 3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan dan penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui dan mengenal secara mendetail serta universal dalam Analisis Puisi Berdasarkan Pendekatan Struktural.

1.4 Manfaat Pembahasan
Tidak dipungkiri lagi bahwa dalam setiap pembahasan pasti mempunyai tujuan tertentu. Tujuan dalam pembahasan ini adalah untuk mendiskripsikan secara objektif tentang;
“ Analisis Puisi Berdasarkan Pendekatan Struktural “


1. 5 Batasan Istilah Dalam Judul
Batasan istilah ini dimaksudkan agar tidak terjadi salah penafsiran terhadap judul makalah ini sedangkan yang perlu di batasi dalam istilah tersebut meliputi:
1) Pendekatan Struktural adalah suatu metode atau cara pencarian terhadap suatu fakta yang sasarannya tidak hanya ditujukan kepada salah satu unsur sebagai individu yang berdiri sendiri diluar kesatuannya, melaikan ditujukan pula kepada hubungan antar unsurnya.
2) Arti istilah dan pengertian analisis puisi; Dalam linguistik, analisis puisi adalah kajian yang dilaksanakan terhadap sebuah bahasa guna meneliti struktur bahasa tersebut secara mendalam.


1. 6 Sistematika Dalam Judul
Dalam pembahasan pada makalah ini, penulis membagi penulisan makalah ini menjadi 4 Bab. Termasuk didalamnya Bab Pendahuluan, Bab Kajian teori, Bab Analisis, dan Bab Penutup secara berturut-turut penulis uraikan sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN berisi mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat pembahasan, batasan istilah dalam judul, dan sistematika dalam judul.
BAB II : KAJIAN TEORI menguraikan tentang pengertian pendekatan struktural dan analisis puisi.
BAB III : ANALISIS PUISI BERDASARKAN PENDEKATAN STRUKTURAL menganalasis puisi berdasarkan pendekatan struktural.

BAB IV : PENUTUP berisi tentang kesimpulan dan saran.
































BAB II
KAJIAN TEORI

2. 1 Pengertian Pendekatan Struktural
Pendekatan struktural adalah suatu metode atau cara pencarian terhadap suatu fakta yang sasarannya tidak hanya ditujukan kepada salah satu unsur sebagai individu yang berdiri sendiri di luar kesatuannya, melainkan ditujukan pula kepada hubungan antar unsurnya.
Struktural merupakan keseluruhan yang bulat, yaitu bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktural itu.

2. 2 Pengertian Analisis Puisi
Arti istilah analisis (analysis) dianggap berkaitan erat dengan pengertian evaluasi terhadap situasi dari sebuah permasalahan yang dibahas, termasuk di dalamnya peninjauan dari berbagai aspek dan sudut pandang.
Evaluasi merupakan tahap pertama dimana system engineering menganalisis hal-hal yang diperlukan dalam pelaksanaan proyek pembuatan atau pengembangan system dalam bidang komunikasi dan komputerisasi.
Dalam komputasi, analisis ini biasanya mencakup segi kontrol arus, kontrol kesalahan dan penelitian efisiensi. Tidak jarang ditemui permasalahan besar dapat dibagi menjadi komponen yang lebih kecil sehingga dapat diteliti dan ditangani lebih mudah. Lihat juga flow analysis, numerical analysis, system analysis.
Dalam linguistik, analisa atau analisis adalah kajian yang dilaksanakan terhadap sebuah bahasa guna meneliti struktur bahasa tersebut secara mendalam. Sedangkan pada kegiatan laboratorium, kata analisa atau analisis dapat juga berarti kegiatan yang dilakukan di laboratorium untuk memeriksa kandungan suatu zat dalam cuplikan.
Karya sastra, termasuk puisi, adalah sebuah struktur. Sebuah struktur menyiratkan adanya unsur-unsur pembentuk. Puisi adalah sebuah struktur yang kompleks, yang terdiri atas unsur-unsur yang saling berjalinan dengan erat. Unsur-unsur itu tidak berdiri sendiri-sendiri. Sebuah unsur hanya mempunyai arti dalam kaitannya dengan unsur-unsur lainnya di dalam struktur itu dan kaitannya dengan keseluruhannya. Unsur dalam struktur adalah unsur fungsional, yaitu mempunyai tugas (fungsi) tertentu dalam menyusun struktur.
Puisi adalah sebuah struktur yang kompleks. Oleh karena itu, untuk dapat memahaminya haruslah dianalisis. Akan tetapi, tidak semua analisis sama baiknya. Analisis yang tidak benar akan menghasilkan kumpulan fragmen atau koleksi fragmen. Unsur koleksi bukanlah bagian struktur yang sesungguhnya. Oleh karena itu, dalam analisis haruslah dilihat hubungan antarbagiannya, mengingat unsur dalam struktur adalah unsur yang fungsional.
Sampai sekarang dikenal analisis dikotomis bentuk dan isi karya sastra. Analisis bentuk dan isi itu tidak menggambarkan wujud puisi yang sebenarnya karena bentuk dan isi puisi itu tidak dapat dipisahkan secara mutlak. Bentuk dan isi itu bercampur hingga mana yang bentuk dan mana yang isi itu tidak jelas. Untuk mengatasi masalah analisis bentuk dan isi itu ada usaha lain, yaitu analisis fenomenologis. Analisis fenomenologis itu dibuat oleh Roman Ingarden, seorang filsuf dan ahli seni Polandia. Karya sastra itu sesungguhnya merupakan struktur lapis norma karya sastra. Norma karya sastra itu adalah implisit dalam karya sastra sendiri, tidak berasal dari luar. Analisis Ingarden itu dikemukakan oleh Renne Wellek dan Austin Warren sebagai berikut.
Karya sastra itu terdiri atas lapis-lapis norma. Lapis norma yang di atas menimbulkan lapis norma yang di bawahnya. Begitu seterusnya. Lapis norma yang pertama adalah lapis bunyi. Lapis bunyi menimbulkan lapis kedua, yaitu lapis arti. Lapis norma ketiga adalah lapis dunia pengarang. Ingarden masih menambahkan dua lapis norma lagi, yaitu lapis dunia implisit dan lapis metafika yang menurut Wellek dapat disatukan dengan lapis ketiga, lapis dunia pengarang.
Analisis Ingarden ini adalah analisis yang sangat maju, tetapi ada kekurangannya karena tidak menghubungkan dengan penilaian. Unsur-unsur karya sastra tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai mengingat karya seni sastra adalah karya seni yang fungsi estesisnya dominan. Oleh karena itu, dalam menganalisis karya sastra termasuk puisi, ditunjukkan satuan-satuan estesis dari tiap-tiap lapis norma dan fungsinya dalam struktur tersebut.
Analisis lapis bunyi dan lapis arti itu sarana yang terpenting untuk memahami puisi. Hal ini disebabkan oleh puisi itu bersifat liris. Oleh karena itu, sarana ekspresinya yang utama berupa satuan bunyi dan satuan arti.
Satuan-satuan estetik bunyi adalah persajakan, kiasan bunyi, dan orkestrasi. Dalam puisi, satuan-satuan bunyi itu saling berjalinan untuk mendapatkan ekspresivitas yang intensif. Bahkan juga satuan estetik bunyi itu berjalinan erat dengan satuan-satuan estetik lapis arti untuk mendapatkan nilai seni sebanyak-banyaknya.
Di antara satuan estetik bunyi adalah sajak. Sajak adalah ulangan bunyi, baik berupa asonansi, aliterasi, sajak awal, sajak dalam, sajak akhir maupun sajak tengah. Dalam puisi lama ada pola sajak (sajak akhir) yang mengikat. Dalam puisi Pujangga Baru masih dipergunakan pola sajak akhir, tetapi tidak mengikat. Dalam arti, boleh dibuat variasi pola-polanya. Dalam puisi periode berikutnya persajakan sebagai sarana kepuitisan, tetapi disesuaikan dengan fungsi ekspresivitasnya, tidak usah harus terpola. Bahkan, ada kecenderungan untuk tidak mempergunakan 1990 karena sajak ditulis seperti bentukpersajakan pada periode 1970 formal prosa. Di samping persajakan sarana kepuitisan bunyi berupa orkestrasi. Orkestrasi adalah bunyi musik pada puisi. Orkestrasi ini berupa penggabungan unsur-unsur kepuitisan bunyi yang menyebabkan merdu dan berirama. Orkestrasi bunyi yang merdu disebut efoni, sedangkan orkestrasi bunyi parau disebut kakafoni.
Satuan-satuan estetik lapis arti di antaranya berupa diksi, bahasa kiasan, dan sarana retorika. Diksi adalah pemilihan kata setepat-tepatnya. Pemilihan kata itu disesuaikan dengan ekspresi bunyi, ketepatan arti yang sesuai dengan gagasan sajak, konsep estetik, dan warna setempat (local colour
Puisi dapat diartikan sebagai hasil karya tulis yang mengandung unsur seni. Mengapa dikatakan demikian ? Karena puisi adalah hasil buah fikir manusia (karya) dalam bentuk tertulis (tidak dalam bentuk lain, misal patung atau lukisan) yang penuh dengan unsur keindahan (rasa-emosi). Jika salah satu saja dari karakteristik tersebut hilang, misalkan unsur seni, tidak lagi disebut puisi, melainkan karya tulis biasa seperti halnya pengumuman, laporan, atau berita.
Dalam berpuisi, baik waktu menulis, mambaca, maupun mendengarkannya, ada nuansa khusus sehingga emosional penulis, pembaca, ataupun pendengarnya terbawa hanyut oleh jiwa dari puisi itu. Lain halnya dengan sajian bahasa yang sifatnya informasi (mungkin) tidak akan menyentuh unsur afektif individu. Dengan demikian, melalui berpuisi sekaligus dapat membangkitkan dan mengembangkan (Bloom, BS dalam Erman, 2003) potensi emosional (affektive, rasa-budi) sekaligus kemampuan berfikir (cognitive, akal-fikir), dan ketrampilan psikis (psychomotoric). Dengan berpuisi, lengkaplah pengembangan potensi individu tersebut di atas, karena ketiganya selalu terbawa serta.

*) Analisis Puisi Berdasarkan Pendekatan Struktural
Analisis struktural merupakan tugas prioritas atau tugas pendahuluan. Sebab karya sastra mempunyai kebulatan makna intiristik yang dapat digali dari karya itu sendiri.
Pendekatan struktural yang dipergunakan, akan menghasilkan gambaran yang jelas terhadap diksi, citraan, bahasa khias, majas, sarana retorika, bait dan baris, nilai bunyi, persajakan, narasi, emosi, dan ide yang digunakan dalam menulis puisinya.
Untuk menunjang menganalisis puisi. Pendekatan struktural dalam analisis puisi dab kritik sastra berguna untuk pengembangan dan pembinaan ilmu sastra (teori sastra). Kritik sastra merupakan wadah analisis karya sastra, analisis struktur cerita, gaya bahasa, gaya bahasa teknik penceritaan dan sebagainya.
Pendekatan struktural yang dipergunakan, akan menghasilkan gambaran yang jelas terhadap diksi, citraan, bahasa kias, majas, sarana retorika, bait dan baris, nilai dan bunyi, persajakan, narasi, emosi, dan ide yang digunakan pengarang dalam menulis puisinya.

BAB III
ANALISIS PUISI
BERDASARKAN PENDEKATAN STRUKTURAL


Di bawah ini akan disajikan sebuah puisi yang dianalisis berdasarkan pendekatan struktural;

PUISI

TOBAT


Aku tobat, ya Tuhanku
Tobat atas segala dosaku
Kacang-kacang berkembang
Daun kobis segar di Iadang

Jantungku adalah biji kentang
Digigit oleh tanah
Subur dan menderita
Digigit oleh tanah

Aku tobat, ya Tuhanku
Tobat atas segala dosaku
Burung-burung kecil di belukar
Batang pimping menggeiiat

Mulutmu daisi di hutan
Sederhana dan naif sekali
Mulutmu daisi di hutan
Diinjak kaki petani
Aku tobat, ya Tuhanku
Telah kuinjak mulutmu
Dan juga jantungku.
(Rendra, Masmur Mawar)
a. Diksi (pilihan kata)
Diksi merupakan pemilihan kata yang tepat, padat dan kaya akan nuansa makna dan suasana sehingga mampu rnengembangkan dan mempengaruhi daya irnajinasi pembaca (Fajahono. 1990: 59).
Dalam puisi “TOBAT” disamping, terdapat beberapa pilihan kata yang digunakan oleh pengarang yang sangat sederhana seperti yang dapat dilihat dalam puisi tersebut. Kata-kata yang digunakan oleh penyair mudah dipahami.


Seperti pada BAIT I pada baris I dan 2

“Aku tobat, ya Tuhanku
Tobat atas segala dosaku”

Dalam menggunakan kata-kata aku tobat, ya. Tuhanku, pembaca akan lebih mudah mengetahui makna sebenarnya dan puisi tersebut, begitu pula pada kata-kata dalam kalimat tobat atas segala dosaku, kata yang digunakan adalah kata dengan makna sebenamya.

BAIT II

“Jantungku adalah biji kentang
Digigit oleh tanah
Subur dan menderita
Digigit oleh tanah”

Kata-kata yang digunakan dalam kalimat puisi di atas menggunakan kata-kata yang mengandung unsur perumpamaan,ini bisa dilihat jelas pada kata “jantungku adalah biji kacang”.

BAIT III dan BAIT IV juga menggunakan kata-kata dengan makna sebenanya.



b. Pengimajian (citraan)
Pengimajian adalah kata atau susunan kata yang dapat mengungkapkan pengalaman sensonis seperti penglihatan, pendengaran dan perasaan. Pada puisi “T0BAT’ pengimajian yang digunakan oleh pengarang terdapat pada:
*) Citraan Penglihatan terdapat pada bait:
I : “Kacang-kacang berkembang”
Daun habis segar di ladang
II : “Jantungku adalah biji kentang”
IV : “Telah kuinjak mulutmu” Dan juga jantungku.

*) Citraan Pendengaran terdapat pada bait I dan III
II : “digigit oleb tanab”
Subur dan meaderita
Digigit oleh tanah
IV : “Mulutmu daisi di hutan”
Sederhana dan naif sekali
Mulutmu daisi di hutan.


c. Kata Konkret
Kata konkret adalah kata-kata yang dapat menyarankan kepada arti yang menyeluruh. Pengonkretan kata berhubungan erat dengan pengimajinasian, peagembangan dan pengiasan. Pada puisi “TOBAT” kata konkret terdapat pada bait:
II : “Jantwigku adalah biji kentang”
Di mana penyair di sini menghiaskan bahwa jantungnya disamakan dengan biji kentang.
II : “digigit oleh tanah”
Di mana penyair menghiaskan atau mempersarnakan tanah dengan rnatiusia atau hewan yang bisa meuggigit sedangkan tanah merupakan benda mati.


d. Bahasa Figuratif (Majas)
Bahasa ftguratif atau majas adalah bahasa yang digunakan penyair untuk mengatakan sesuatu dengan cara yang biasa, yakni suara yang langsung mengungkapkan makna.
Pada puisi “TOBAT” majas yang digunakan:
a) Perbandingan. Puisi “TOBAT” tidak mempunyai bahasa figuratif perbandingan
b) Metafora adalah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain tetapi tidak menggunakan kata-kata pembanding.
Pada puisi “TOBAT” metafora terdapat pada:
Bait II : “Jantungku adalah biji kentang”
Di mana dalam puisi üü penyair menyatakan bahwa jantungnya adalah biji dipersamakan dengan biji kentang.
c) Perumpamaan epos, perbandingan yang dilanjutkan atan diperpanjang yaitu dibentuk dengan cara rnelanjutkan sifat-sifat pembandingnya lebih lanjut dalam kalimat atau frase berturut-turut
“Jantungku adalah kentang”
Digigit oleh tanah
Subur dan menderita
Digigit oleh tanah
d) Personifikasi, kiasan mi mempersamakan benda dengan manusia, benda-benda mati dibuat dapat berbuat, berpikir dan sebagainya seperti manusia.
Pada puisi “TOBAT” personifikasi terdapat pada bait II “digigit oleh tanah”
Di mana penyair mempersamakan tanah dengan manusia yang dapat rnenggigit padahal tanah itti merupakan benda mati,
e) Venfikasi (rima, ritme dan metrum)
 Rima, pengulangan bunyi dalam puisi
Pada puisi “TOBAT’ rima terdapat pada bait I yaitu pengulangan bunyi ku dan ang.
Aku tobat ya Tuhanku
Tobat atas segala dosaku
Kacang-kacang berkembang
Daun kobis segar di Iadang
 Ritma, pengulangan bunyi, kata, frase dan kalimat pada puisi “TOBAT” ritma terciapat pada bait II dan IV yaitu pengulangan kalimat:
II : “digigitoleh tanah”
IV: “Mulutmu daisi di hutan”
Metrum, pengulangan tekanan kata yang tetap path puisi “TOBAT” metrum tidak terdapat pada puisi tersebut.
f) Tata wajah (Tipografi), berituk yang khas dan puisi
Pada puisi yang beRjudul “ TOBAT “ mempunyai, tipografi wig zag.

*) Analisis Berdasarkan Struktur Batin
1. Tema, mempakan gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Pada puisi “TOBAT “ penyair menggunakan tema ketuhanan, karena terdapat pada beberapa bait sang penyair mengatakan tobat atau sang penyair ingin tobat dan segala apa yang telah dia lakukan.
2. Perasaan (Feeling), suasana perasaan sang penyair yang diekspresikan dan harus dihayati oleh pembaca.
Pada puisi “TOBAT” sang penyair merasa sedih karena dalam puisi tersebut penyair nengungkapkan semua kesalahan yang dia lakukaii dan akan bertobat
3. Nada dan Suasana
- Nada, sikap penyair terhadap pembaca
Puisi “TOBAT” sikap penyair terhadap pembaca yaitu : lembut dan halus karena dia memohon agar tobat yang dilakukan dapat diterima
- Suasana, keadaan jiwa pembaca setelah membaca puisi yaitu : pembaca merasa sedih dan terharu, serta merenungkan semua apa yang dia lakukan sama dengan penyair lakukan.
- Amanat (pesan)
Amanat merupakan hal yang mendorong penyair untuk menciptakan puisinya.
Pada puisi “TOBAT” arnanat yang terkandung yaitu : segala sesuatu yang kita lakukan baik itu yang bermanfaat atau tidak, pastinya kita akan minta ampun kepada Tuhan.









































BAB IV
PENUTUP

4.1 Simpulan
Struktural merupakan keseluruhan yang bulat, yaitu bagian-bagian yang membentuknya tidak dapat berdiri sendiri di luar struktural itu. Analisis struktural merupakan tugas prioritas atau tugas pendahuluan. Sebab karya sastra mempunyai kebulatan makna intiristik yang dapat digali dari karya itu sendiri.
Evaluasi merupakan tahap pertama dimana system engineering menganalisis hal-hal yang diperlukan dalam pelaksanaan proyek pembuatan atau pengembangan system dalam bidang komunikasi dan komputerisasi.
Dalam komputasi, analisis ini biasanya mencakup segi kontrol arus, kontrol kesalahan dan penelitian efisiensi. Tidak jarang ditemui permasalahan besar dapat dibagi menjadi komponen yang lebih kecil sehingga dapat diteliti dan ditangani lebih mudah. Lihat juga flow analysis, numerical analysis, system analysis.
Perumusan masalah dari Analisis Puisi Berdasarkan Pendekatan Struktural adalah:

1. Apa pengertian pendekatan struktural?
- Pendekatan struktural adalah suatu metode atau cara pencarian terhadap suatu fakta yang sasarannya tidak hanya ditujukan kepada salah satu unsur sebagai individu yang berdiri sendiri di luar kesatuannya, melainkan ditujukan pula kepada hubungan antar unsurnya.

2. Apa arti dari analisis puisi?
- Arti istilah analisis (analysis) dianggap berkaitan erat dengan pengertian evaluasi terhadap situasi dari sebuah permasalahan yang dibahas, termasuk di dalamnya peninjauan dari berbagai aspek dan sudut pandang.
Dalam linguistik, analisa atau analisis adalah kajian yang dilaksanakan terhadap sebuah bahasa guna meneliti struktur bahasa tersebut secara mendalam. Sedangkan pada kegiatan laboratorium, kata analisa atau analisis dapat juga berarti kegiatan yang dilakukan di laboratorium untuk memeriksa kandungan suatu zat dalam cuplikan.

3. Apa hasil dari menganalisis puisi menggunakan pendekatan struktural?
- Hasil dari analisis puisi menggunakan pendekatan struktural adalah akan menghasilkan gambaran yang jelas terhadap diksi, citraan, bahasa khias, majas, sarana retorika, bait dan baris, nilai bunyi, persajakan, narasi, emosi, dan ide yang digunakan dalam menulis puisinya.


4.2 Saran
Kritik sastra memiliki peran sebagai jembatan penghubung antara karya sastra dengan masyarakat penikmat sastra. Sumbangan pikiran dan analisis kritikus yang baik bisa menimbulkan minat yang menyala-nyala bagi pembaca-pembaca lain untuk membaca karya sastra tersebut. Kritikus dalam hal mi dapat menjadi pemandu pembaca dalam menikmati karya sastra. Di samping itu, kritik sastra dapat pula dijadikan alat pemandu bakat para penulis muda dan dapat mematangkan penuhs yang telah berkarya. Bahkan bagi pengarang. Kritikus dapat menjadi. propaganda yang balk untuk karya-karya mereka. Dalam mengembang misinya , para kritikus dituntut memiliki rasa tanggung jawab dan kejujuran dalain rnengembangkan profesi dan kejujuran terhadap hati nurani sendiri.
Seorang kritikus tidak akan terbawa hanyut oleh keterpakuannya terhadap apa yang dinikmati dan dihayati atau terbius dan terbuai oleh kesan-kesan belaka sehingga apa yang ditulisnya bukanlah sebuah kritik melainkan rekaman kesan-kesan, atau laporan perjalanan batin di dalam keterbuaiannya dengan kesan-kesan itu. Ia harus memiliki kemampuan nasional berkat pengetahuan dan pengalaman batinnya yang telah diperkaya oieh banyaknya jenis karya yang telah dibacanya dan ditelaahnya. Semakin banyak ia membaca, semakin kaya pula Ia dengan pengetahuan dan pengalaman batin, serta semakin tajam pula pengamatan dan kemampuannya merasionalkan kesimpulan-kesimpulan yang ditariknya dan apa yang dibacanya itu. Dengan demikian ia dapat menerangkan hakikat karya sastra yang bersangkutan sebagaimana Ia dapat menangkap dan merasakannya.
Untuk menunjang ilmu sastra. Kritik sastra berguna pula untuk pengembangan dan pembinaan ilmu sastra (teori sastra) Kritik sastra merupakan wadah analisis karya sastra, analisis struktur cerita, gaya bahasa teknik penceritaan dan sebagainya. Dengan demikian ia memberi sumbangan besar kepada para ahIi sastra dalam mengernbangkan sastra memberi sumbangan pula kepada kritikus yang belurn dijelajahi oleh pengarang. Demikian, saran dari penulis makalah ini secara nyata memberi sumbangan pula dalam meningkatkan mutu karya sastrawan.



















BIBLIOGRAFI

Arya, Putu. (1983). Apresiasi Puisi dan Prosa. Ende Flores: Nusa Indah.
Effendi. S. (1982). Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta: Tangga Mustika Alam.
Fananie, Zainuddin. (1982). Telaah Sastra. Surakarta: Muhamadiyah University Press.
Luxemburg, et.al. (1982). Pengantar Ilmu Sastra. Terjemahan Dick Hartoko. Jakarta: Gramedia.
Semi Atar M. (1992). Anatomi Sastra. Bandung: Rosda Karya.
Sudjiman, Panuti. (1992). Memahami Cerita Rekaan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Tjahjono Libertus, T. (1986). Sastra Indonesia: Pengantar Teori dan Apresiasi. Ende, Flores: Nusa Indah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar